IMPIAN MEMBANGUN TV LOKAL BANJARNEGARA
dntv@smkdarunnajah.sch.id.
Banjarnegara kota yang terkenal dengn Dawet ayunya, adalah kota yang masyarakatnya sebagaian adalah petani. sebuah impian dari kami di kota yang dikatagorikan kabupaten miskin ini berkeinginan mendirikan TV Lokal Banjarnegara. DBS ( Darunnajah Broadcasting System) adalah organisasi tempat berkarya siswa siswa SMK Darunnajah dan Masyarakat umum yang mempunyai impian sama dengan kami
DBS dibawah naungan Program Keahlian Teknik Broadcasting SMK Darunnajah adalah wadah yang menampung kreatifitas masyarakat terutama masyarakat Banjarnegara dalam pertelevisian yang disiarakan Melalu DN-TV Impian Kami untuk Mendirikan TV Banjarnegara sepertinya masih membutuhkan perjuangan, baik dari sisi birokrasi maupun pendanaan.
Karena itu kami mencoba untuk eksis dengan jangkauan yang masih sangat terbatas untuk tetap siaran di wilayah Kecamatan Banjarmangu.
BELAJAR DARI PENGALAMAN MASYARAKAT AMERIKA
Musim durian telah tiba, demikian ungkapan yang bisa menggambarkan
munculnya TV lokal di berbagai kota di Indonesia. Awalnya di satu
tempat, lalu di tempat lain hingga di berbagai tempat. Namun demikian
hanya beberapa yang menjual durian enak. Demikian juga hanya akan ada
beberapa TV lokal yang bagus, baik dari segi tontonan atau dari segi
bisnis.
Jika kita membaca buku-buku mengenai industri pertelevisian, misalnya
hasil survey di Amerika yang berjudul Broadcasting in Amerika, maka
mengamati dunia pertelevisian kita amat menarik karena pertelevisian
kita bagai mengulang sejarah pertelevisian di Amerika. Kita memang
tidak bisa melepaskan diri dari pengalaman masyarakat Amerika dalam
membangun industri TV-nya. Di sana lah pertama kali stasiun TV
dibangun dan di sana pula industri TV terbentuk. Memang, industri TV
di Indonesia tidak langsung belajar dari pengalaman Amerika, tetapi
banyak persoalan yang dialami masyarakat Amerika dulu kini dialami
oleh masyarakat Indonesia. Contohnya adalah bagaimana Undang-undang
Siaran dibentuk.
Yang paling menarik adalah data mengenai profile penonton TV di
Amerika menurut Broadcasting in America itu. Data ini menarik karena
ikut membentuk programming di pertelevisian. Penonton TV di Amerika
terbanyak adalah penonton dengan kelas C, D, dan E, bukan kelas A
dan B, juga berpendidikan rendah atau gabungan keduanya. Kita memang
hanya melihat beberapa program-program bagus dari Amerika, tetapi
sesungguhnya banyak program yang amat tidak cerdas dan tidak mendidik
yang ditayangkan di negara-negara maju.
Begitu juga menurut survey AC Nielsen terhadap penonton televisi di
Indonesia, makin rendah tingkat pendidikannya, makin tinggi jam
menonton televisinya. Sebagai contoh, sepanjang bulan Maret 2005,
menurut survey AC Nielsen pada jam 18:00-22:00 penonton televisi di
Indonesia adalah lebih banyak penonton dari kelas C, D, dan E.
Demikian juga makin rendah kelas ekonominya makin tinggi jam menonton
televisinya. Hal ini mungkin bisa dipahami, karena dengan pendidikan
yang tinggi orang lebih menyukai mengisi waktunya untuk kegiatan lain
seperti, membaca dari berbagai media atau berbagai sumber informasi.
Juga dengan pendidikan yang lebih tinggi, tingkat kelas ekonominya
pun bertambah, sehingga orang-orang ini memiliki pilihan dalam
melakukan kegiatan yang lain dibanding menonton televisi, misalnya
melakukan kegiatan ke luar rumah, surfing di Internet, atau menonton
Pay TV (seperti televisi Satelite), menonton film dari VCD/DVD atau
mengerjakan kegiatan lain seperti yang bersifat hobby.
Profile penonton seperti ini terlihat di tayangan serial drama baik
lokal maupun asing yang tidak mungkin disukai oleh orang-orang yang
berpendidikan tinggi. Film lepas untuk profile penonton seperti itu
lebih banyak film action yang ceritanya menghina intelektual
penontonnya, yang penting ada gedebak-gedubuk, dar-der-dor, bum atau
esek-esek. Tayangan seperti itu pasti mendapatkan jumlah penonton
yang tinggi jika dibandingkan dengan tontonan lain misalnya talkshow.
Meski begitu, bukan berarti tayangan-tayangan yang mendidik atau
memuaskan intelektual penonton (yang tidak bisa memperoleh jumlah
penonton yang tinggi itu) tidak bisa menjadi tayangan yang
menguntungkan secara bisnis. Karena dengan marketing strategy yang
tepat sebuah talkshow dengan rating hanya 1 atau 2 bisa dijual kepada
pemasang iklan yang cocok berdasarkan profile penontonnya. Marketing
strategy yang lainnya adalah menjual slot iklan berdasarkan Cost Per
Million (CPM) yang tidak banyak diterapkan oleh stasiun TV sehingga
banyak TV yang memaksakan diri untuk memiliki program dengan rating
tinggi meski pun dengan menayangkan me too program (program sejenis
atau yang meniru program dari stasiun lain yang sukses). Dengan
rating rata-rata yang tinggi di jam prime time, sebuah stasiun TV
akan lebih mudah membuat paket iklannya, yaitu cukup menjual slot
iklan di prime time. Slot iklan di jam-jam lainnya cukup dijadikan
bonus dalam menjual slot di prime time.
Memang, stasiun tv yang berusaha membidik kelas menengah atas akan
cuma bisa memperoleh rating yang sesuai dengan marketnya, karena
penonton dengan profile seperti itu memang sedikit jumlahnya di
banding penonton dengan profile lainnya. Tapi tentu saja bukan
berarti tidak bisa jualan, karena banyak marketing strategy yang bisa
diterapkan oleh sebuah stasiun TV yang segmented.
Banyak stasiun TV lokal di Amerika yang didirikan karena hobby semata
atau untuk membangun citra dari grup bisnis seorang pengusaha
sebagaimana sekarang terjadi di Indonesia.
All of the earliest television stations were necessarily local
stations. Most began in an "experimental" status, non-commercial and
sporadically scheduled. Applications for early stations had come from
a range of potential participants, but many of the first to become
truly operational were owned by radio networks or broadcast equipment
manufacturers with strong financial reserves; costs for construction
and research-and-development were high, and revenues were low or non-
existent for many years and much of the television industry was
developed by those who could withstand continuing financial losses.
Encyclopedy of Television (The Encyclopedia of Television,
http://www.museum.tv/archives/etv/Encyclopediatv.htm ).
Meski demikian sebaiknya TV Lokal baru pada 3 tahun pertamanya
berorientasi pada revenue sebagai orientasi utamanya, baru Station
Identity sebagai orientasi keduanya sebagaimana yang dijelaskan di
bawah ini. Jika ini disebut sebagai konsep¡¨, maka sebuah stasiun TV,
misalnya, akan memperhitungkan tayangan yang akan dipasang
berdasarkan berapa stasiun itu akan mendapat revenue, bukan terpaku
pada station identity yang harus dipertahankan atau dibangun. Oleh
karena itu stasiun TV yang memposisikan dirinya di segment yang lebih
umum, bukan segment tertentu, akan lebih mudah melakukan manuver
dalam business development strategy-nya. Meski demikian menurut
Public Relations strategy, dibutuhkan public campaign yang menyatakan
bahwa stasiun ini berorientasi pada kepentingan publik (misalnya).
Konsep membangun stasiun TV lokal ini dibawah ini diringkas dari buku
Broadcasting in America. Konsep ini digambarkan berdasarkan
department di sebuah stasiun TV yang paling penting beserta job
description-nya. Di bawah ini adalah department yang penting menurut
urutannya.
1. Research & Development „³ untuk merancang business development
serta merancang brand (segmentasi) dan image.
i. Market Survey „³ audience profile:
a. Social Economic Status (Economic Class)
b. Sex (ini cukup penting dilihat dari kacamata pemasang iklan)
c. Age (ini juga penting dari kacamata pemasang iklan)
d. Education (paling belakang karena kadang meski berpendidikan
tinggi tetapi SES-nya tinggi dan kurang dipandang penting oleh
pemasang iklan)
ii. Market Survey „³ audience tendency terhadap program-program TV
iii. Major Audience Mapping „³ tiap-tiap jam bisa memiliki audience
profile tertentu yang menonjol
iv. Menentukan Station Identity
v. Memberi rekomendasi dalam merancang programming untuk tiap-
tiap jam yang berbeda berdasarkan hari, seperti, hari kerja, sabtu
dan minggu
vi. Memberi rekomendasi untuk pembentukan perilaku penonton
(audience tendency)
vii. Mensupport department lain, misalnya Promotion Department,
bagaimana merancang promotion strategy untuk membentuk brand image
atau awareness di benak audience.
2. Programming „³ Merancang programming strategy
i. Menciptakan program yang bisa memiliki multiplier effect,
seperti reality program
ii. Bekerja sama dengan Production Department untuk merancang
Local Program
iii. Menentukan dan merencanakan program yang harus dibeli dari
pihak luar
iv. Membangun kerjasama atau networking dengan pihak luar dalam
hal programming
v. Merancang budget untuk membeli dan memproduksi program
vi. Bersama dengan R&D mengevaluasi programming setiap bulan
sekali atau setiap periode waktu yang ditentukan
vii. Mengantisipasi setiap perubahan situasi rating dari setiap
stasiun TV yang ada
viii. Bekerja sama dengan Promotion Department dan Marketing
Department untuk program yang akan datang
3. Promotion „³ untuk memperoleh rating juga untuk membangun
brand image dan awareness.
i. Merancang off-air event „³ penting untuk kota kosmopolitan
seperti Jakarta
a. Untuk memikat target audience yang sudah ditentukan
b. Untuk membangun brand image dan awareness
c. Untuk mempertahankan brand awareness dengan melakukan
kegiatan sosial, misalnya sebagai menjadi fasilitator untuk bantuan
kemanusiaan pada saat terjadi bencana
d. Merancang promotion tools, seperti souvenir, sticker, T-
shirt, topi, pen, payung dan lain-lain.
ii. Bekerja sama dengan Programming Department merancang on-air
promotion
a. Program promotion „³ mengingatkan atau menginformasikan
tentang program yang sudah ada atau yang akan ditayangkan
b. Merancang promotion untuk target audience tertentu, misalnya
berdasarkan usia atau audience dari kelompok masyarakat tertentu
iii. Merancang promotion melalui semua media yang ada; cetak dan
elektronik
iv. Bekerja sama dengan Marketing Department membangun
relationship dengan pemasang iklan; agency dan advertiser
v. Melakukan pekerjaan Public Relations (jadi PR di bawah
Promotion Department)
a. Merancang PR Strategy
b. Mengumpulkan dan mengelola informasi atau profile perusahaan,
serta menerapkannya seperti:
„Ï Vision
„Ï Mission
„Ï Short and long term business development and plans
c. Membuat company profiles dalam berbagai format
d. Melakukan Publication
i. Regular: - Membuat dan mengelola company website
- Mengelola newsletter, in-house magazine
ii. Irregular: - Menulis articles atau press release.
- Mendorong pihak lain atau penulis lain untuk menulis artikel atau
membuat exposure tertentu yang bisa ikut mendorong business
development
e. Company analyses atau SWOT analyses
f. Menjadi juru bicara untuk media and pihak lain (media
relations and spokesperson)
4. Marketing „³ Membuat strategy untuk mendapatkan revenue secara
maksimal meskipun perolehan rating-nya rendah
i. Merancang Comprehensive Brochure yang berisi mengenai company
profile dan programming strategy hingga beberapa tahun ke depan. Juga
ada gambaran mengenai audience profile dan perolehan rating dan
projection-nya.
ii. Merancang paket iklan berdasarkan
a. Social Economic Status
b. Age
c. Sex
d. Education
e. Gabungan dari beberapa atau semua audience profile category
di atas
iii. Merancang paket iklan berdasarkan waktu tayang; Early Morning
(7:00-10:00 A.M.), Daytime (10:00 A.M.-6:00 P.M.), Early Fringe (6:00-
7:00 P.M.), Prime Access (7:00-8:00 P.M.), Prime Time (8:00-11:00),
Late Fringe (11:00-11:30 P.M.), Late Night (11:30 P.M.-12:30 A.M.),
Overnight (12:30-7:00 A.M.)
iv. Merancang paket iklan berdasarkan program type
v. Merancang marketing strategy untuk mendapatkan pemasang iklan
pada program-program yang memiliki rating rendah.
vi. Menentukan pemasang iklan potensial dan mempersuasi untuk
beriklan
vii. Membangun relationship dengan pemasang iklan; agency dan
advertiser
5. Management & Technical support
Semua pekerjaan di atas tidak ada artinya jika tanpa management atau
administrative support, seperti Traffic Section untuk mengelola
penayangan iklan. Semua pekerjaan tersebut harus ada sistem untuk
mengevaluasi dan mempertahankannya.
Sebuah stasiun TV dengan programming yang baik saja belum cukup tanpa
didukung oleh technical support yang baik pula. Tidak mungkin sebuah
program yang baik akan ditonton jika terus menerus ada gangguan dalam
siarannya, baik itu gambar atau suaranya. Begitu juga ketepatan waktu
dalam setiap tayangan, pergantian dari satu program ke program lain.
Jeda lebih dari 2 detik akan terasa amat lama di mata penonton yang
bisa berakibat pindahnya penonton ke channel lainnya.
Jejak Ted Turner; TV Lokal Menjadi Raksasa CNN
Pada tahun 1975, teknologi satelit komunikasi Amerika sampai pada
tahap di mana orang dapat memancarkan siaran TV. Pada tahun itu Time,
Inc. yang telah mendirikan HBO menyiarkan pertandingan tinju antara
Muhammad Ali-Joe Frazier yang didistribusikan melalui satelit ke
berbagai stasiun TV dan sukses.
Terinspirasi dari kesuksesan siaran pertandingan tinju itu, Ted
Turner, pendiri CNN, yang saat itu masih menjalankan Turner
Communication yaitu bisnis billboard dan stasiun-stasiun radio,
melihat peluang untuk beriklan di TV secara nasional hanya dari
sebuah stasiun TV lokal kecil bernama WTBS di Atlanta (My Beef With
Big Media, How government protects big media--and shuts out upstarts
like me. By Ted Turner.
http://www.washingtonmonthly.com/features/2004/0407.turner.html ).
Ted menyewa sebuah saluran satelit yang sama dengan HBO untuk
menerima dan memancarkan siaran TV WTBS, lalu Ted menginformasikan
kepada seluruh perusahaan Pay TV di Amerika, seluruh bahwa program
dari siaran WTBS boleh dipancar-ulangkan secara gratis. Ratusan Pay
TV yang ada saat itu kemudian mendapat tambahan program baru,
sehingga WTBS kini memiliki jutaan pemirsa yang tentu saja juga
menarik perhatian para pemasang iklan TV. The charge to the cable
companies did not cover the WTBS's own costs, but the station was now
able to set higher advertising rates because its audience was spread
over the entire country (Cable Networks, The Encyclopedia of
Television, http://www.museum.tv/archives/etv/Encyclopediatv.htm )
Sudah lebih dari 10 tahun pertelevisian Indonesia. Kritik terhadap
tayangan televisi kita semakin kuat saja, bahkan Komisi Penyiaran
Indonesia (http://www.kpi.go.id) yang sudah dibentuk ¡¨rajin¡¨
melayangkan protes dan kritik tentang acara-acara yang bisa memiliki
akibat buruk. Seminar dan diskusi pun sudah digelar untuk
mempertanyakan arah pertelevisian kita. Namun kelihatannya
pertelevisian kita bakal terus berjalan dengan tayangan-tayangan
yang disukai penonton¡¨ sebagaimana yang ditunjukkan oleh survey AC
Nielsen dalam bentuk rating tinggi¡¨. Industri televisi sampai kini
hanya tunduk pada rating¡¨. Hanya rating turun¡¨ yang dapat membuat
sebuah stasiun TV merubah tayangannya. Meski pun demikian sebuah
stasiun TV bisa saja membentuk prilaku menonton pemirsanya melalui
beberapa strategi.
Tayangan setan-setanan¡¨ adalah contoh tayangan yang dapat memberikan
rating yang cukup untuk membuat sebuah stasiun bisa jualan¡¨ dan
bertahan hidup. Beberapa waktu yang lalu Indul Daratista pernah
dieksploitasi oleh hampir semua stasiun TV untuk memperoleh untung.
Meski tayangan seperti itu tidak cerdas dan tidak mendidik,
kebanyakan stasiun TVternyata memang harus bertahan hidup dengan cara
seperti. Entah, sampai kapan situasi ini berubah atau diubah.
Barangkali kehadiran TV-TV Lokal baru akan memberi peluang baru untuk
adanya perubahan itu melalui persaingan antar stasiun TV yang semakin
ketat.
DBS sangat terbuka untuk umum jadi siapa saja yang ingin bergabung kami persilahkan selama masih dalam satu visi dengan kami.
karena kami masih sangat membutuhkan support. kepada yang ingin bergabung bisa menghubungi dntv@smkdarunnajah.sch.id.
dntv@smkdarunnajah.sch.id.
Banjarnegara kota yang terkenal dengn Dawet ayunya, adalah kota yang masyarakatnya sebagaian adalah petani. sebuah impian dari kami di kota yang dikatagorikan kabupaten miskin ini berkeinginan mendirikan TV Lokal Banjarnegara. DBS ( Darunnajah Broadcasting System) adalah organisasi tempat berkarya siswa siswa SMK Darunnajah dan Masyarakat umum yang mempunyai impian sama dengan kami
DBS dibawah naungan Program Keahlian Teknik Broadcasting SMK Darunnajah adalah wadah yang menampung kreatifitas masyarakat terutama masyarakat Banjarnegara dalam pertelevisian yang disiarakan Melalu DN-TV Impian Kami untuk Mendirikan TV Banjarnegara sepertinya masih membutuhkan perjuangan, baik dari sisi birokrasi maupun pendanaan.
Karena itu kami mencoba untuk eksis dengan jangkauan yang masih sangat terbatas untuk tetap siaran di wilayah Kecamatan Banjarmangu.
BELAJAR DARI PENGALAMAN MASYARAKAT AMERIKA
Musim durian telah tiba, demikian ungkapan yang bisa menggambarkan
munculnya TV lokal di berbagai kota di Indonesia. Awalnya di satu
tempat, lalu di tempat lain hingga di berbagai tempat. Namun demikian
hanya beberapa yang menjual durian enak. Demikian juga hanya akan ada
beberapa TV lokal yang bagus, baik dari segi tontonan atau dari segi
bisnis.
Jika kita membaca buku-buku mengenai industri pertelevisian, misalnya
hasil survey di Amerika yang berjudul Broadcasting in Amerika, maka
mengamati dunia pertelevisian kita amat menarik karena pertelevisian
kita bagai mengulang sejarah pertelevisian di Amerika. Kita memang
tidak bisa melepaskan diri dari pengalaman masyarakat Amerika dalam
membangun industri TV-nya. Di sana lah pertama kali stasiun TV
dibangun dan di sana pula industri TV terbentuk. Memang, industri TV
di Indonesia tidak langsung belajar dari pengalaman Amerika, tetapi
banyak persoalan yang dialami masyarakat Amerika dulu kini dialami
oleh masyarakat Indonesia. Contohnya adalah bagaimana Undang-undang
Siaran dibentuk.
Yang paling menarik adalah data mengenai profile penonton TV di
Amerika menurut Broadcasting in America itu. Data ini menarik karena
ikut membentuk programming di pertelevisian. Penonton TV di Amerika
terbanyak adalah penonton dengan kelas C, D, dan E, bukan kelas A
dan B, juga berpendidikan rendah atau gabungan keduanya. Kita memang
hanya melihat beberapa program-program bagus dari Amerika, tetapi
sesungguhnya banyak program yang amat tidak cerdas dan tidak mendidik
yang ditayangkan di negara-negara maju.
Begitu juga menurut survey AC Nielsen terhadap penonton televisi di
Indonesia, makin rendah tingkat pendidikannya, makin tinggi jam
menonton televisinya. Sebagai contoh, sepanjang bulan Maret 2005,
menurut survey AC Nielsen pada jam 18:00-22:00 penonton televisi di
Indonesia adalah lebih banyak penonton dari kelas C, D, dan E.
Demikian juga makin rendah kelas ekonominya makin tinggi jam menonton
televisinya. Hal ini mungkin bisa dipahami, karena dengan pendidikan
yang tinggi orang lebih menyukai mengisi waktunya untuk kegiatan lain
seperti, membaca dari berbagai media atau berbagai sumber informasi.
Juga dengan pendidikan yang lebih tinggi, tingkat kelas ekonominya
pun bertambah, sehingga orang-orang ini memiliki pilihan dalam
melakukan kegiatan yang lain dibanding menonton televisi, misalnya
melakukan kegiatan ke luar rumah, surfing di Internet, atau menonton
Pay TV (seperti televisi Satelite), menonton film dari VCD/DVD atau
mengerjakan kegiatan lain seperti yang bersifat hobby.
Profile penonton seperti ini terlihat di tayangan serial drama baik
lokal maupun asing yang tidak mungkin disukai oleh orang-orang yang
berpendidikan tinggi. Film lepas untuk profile penonton seperti itu
lebih banyak film action yang ceritanya menghina intelektual
penontonnya, yang penting ada gedebak-gedubuk, dar-der-dor, bum atau
esek-esek. Tayangan seperti itu pasti mendapatkan jumlah penonton
yang tinggi jika dibandingkan dengan tontonan lain misalnya talkshow.
Meski begitu, bukan berarti tayangan-tayangan yang mendidik atau
memuaskan intelektual penonton (yang tidak bisa memperoleh jumlah
penonton yang tinggi itu) tidak bisa menjadi tayangan yang
menguntungkan secara bisnis. Karena dengan marketing strategy yang
tepat sebuah talkshow dengan rating hanya 1 atau 2 bisa dijual kepada
pemasang iklan yang cocok berdasarkan profile penontonnya. Marketing
strategy yang lainnya adalah menjual slot iklan berdasarkan Cost Per
Million (CPM) yang tidak banyak diterapkan oleh stasiun TV sehingga
banyak TV yang memaksakan diri untuk memiliki program dengan rating
tinggi meski pun dengan menayangkan me too program (program sejenis
atau yang meniru program dari stasiun lain yang sukses). Dengan
rating rata-rata yang tinggi di jam prime time, sebuah stasiun TV
akan lebih mudah membuat paket iklannya, yaitu cukup menjual slot
iklan di prime time. Slot iklan di jam-jam lainnya cukup dijadikan
bonus dalam menjual slot di prime time.
Memang, stasiun tv yang berusaha membidik kelas menengah atas akan
cuma bisa memperoleh rating yang sesuai dengan marketnya, karena
penonton dengan profile seperti itu memang sedikit jumlahnya di
banding penonton dengan profile lainnya. Tapi tentu saja bukan
berarti tidak bisa jualan, karena banyak marketing strategy yang bisa
diterapkan oleh sebuah stasiun TV yang segmented.
Banyak stasiun TV lokal di Amerika yang didirikan karena hobby semata
atau untuk membangun citra dari grup bisnis seorang pengusaha
sebagaimana sekarang terjadi di Indonesia.
All of the earliest television stations were necessarily local
stations. Most began in an "experimental" status, non-commercial and
sporadically scheduled. Applications for early stations had come from
a range of potential participants, but many of the first to become
truly operational were owned by radio networks or broadcast equipment
manufacturers with strong financial reserves; costs for construction
and research-and-development were high, and revenues were low or non-
existent for many years and much of the television industry was
developed by those who could withstand continuing financial losses.
Encyclopedy of Television (The Encyclopedia of Television,
http://www.museum.tv/archives/etv/Encyclopediatv.htm ).
Meski demikian sebaiknya TV Lokal baru pada 3 tahun pertamanya
berorientasi pada revenue sebagai orientasi utamanya, baru Station
Identity sebagai orientasi keduanya sebagaimana yang dijelaskan di
bawah ini. Jika ini disebut sebagai konsep¡¨, maka sebuah stasiun TV,
misalnya, akan memperhitungkan tayangan yang akan dipasang
berdasarkan berapa stasiun itu akan mendapat revenue, bukan terpaku
pada station identity yang harus dipertahankan atau dibangun. Oleh
karena itu stasiun TV yang memposisikan dirinya di segment yang lebih
umum, bukan segment tertentu, akan lebih mudah melakukan manuver
dalam business development strategy-nya. Meski demikian menurut
Public Relations strategy, dibutuhkan public campaign yang menyatakan
bahwa stasiun ini berorientasi pada kepentingan publik (misalnya).
Konsep membangun stasiun TV lokal ini dibawah ini diringkas dari buku
Broadcasting in America. Konsep ini digambarkan berdasarkan
department di sebuah stasiun TV yang paling penting beserta job
description-nya. Di bawah ini adalah department yang penting menurut
urutannya.
1. Research & Development „³ untuk merancang business development
serta merancang brand (segmentasi) dan image.
i. Market Survey „³ audience profile:
a. Social Economic Status (Economic Class)
b. Sex (ini cukup penting dilihat dari kacamata pemasang iklan)
c. Age (ini juga penting dari kacamata pemasang iklan)
d. Education (paling belakang karena kadang meski berpendidikan
tinggi tetapi SES-nya tinggi dan kurang dipandang penting oleh
pemasang iklan)
ii. Market Survey „³ audience tendency terhadap program-program TV
iii. Major Audience Mapping „³ tiap-tiap jam bisa memiliki audience
profile tertentu yang menonjol
iv. Menentukan Station Identity
v. Memberi rekomendasi dalam merancang programming untuk tiap-
tiap jam yang berbeda berdasarkan hari, seperti, hari kerja, sabtu
dan minggu
vi. Memberi rekomendasi untuk pembentukan perilaku penonton
(audience tendency)
vii. Mensupport department lain, misalnya Promotion Department,
bagaimana merancang promotion strategy untuk membentuk brand image
atau awareness di benak audience.
2. Programming „³ Merancang programming strategy
i. Menciptakan program yang bisa memiliki multiplier effect,
seperti reality program
ii. Bekerja sama dengan Production Department untuk merancang
Local Program
iii. Menentukan dan merencanakan program yang harus dibeli dari
pihak luar
iv. Membangun kerjasama atau networking dengan pihak luar dalam
hal programming
v. Merancang budget untuk membeli dan memproduksi program
vi. Bersama dengan R&D mengevaluasi programming setiap bulan
sekali atau setiap periode waktu yang ditentukan
vii. Mengantisipasi setiap perubahan situasi rating dari setiap
stasiun TV yang ada
viii. Bekerja sama dengan Promotion Department dan Marketing
Department untuk program yang akan datang
3. Promotion „³ untuk memperoleh rating juga untuk membangun
brand image dan awareness.
i. Merancang off-air event „³ penting untuk kota kosmopolitan
seperti Jakarta
a. Untuk memikat target audience yang sudah ditentukan
b. Untuk membangun brand image dan awareness
c. Untuk mempertahankan brand awareness dengan melakukan
kegiatan sosial, misalnya sebagai menjadi fasilitator untuk bantuan
kemanusiaan pada saat terjadi bencana
d. Merancang promotion tools, seperti souvenir, sticker, T-
shirt, topi, pen, payung dan lain-lain.
ii. Bekerja sama dengan Programming Department merancang on-air
promotion
a. Program promotion „³ mengingatkan atau menginformasikan
tentang program yang sudah ada atau yang akan ditayangkan
b. Merancang promotion untuk target audience tertentu, misalnya
berdasarkan usia atau audience dari kelompok masyarakat tertentu
iii. Merancang promotion melalui semua media yang ada; cetak dan
elektronik
iv. Bekerja sama dengan Marketing Department membangun
relationship dengan pemasang iklan; agency dan advertiser
v. Melakukan pekerjaan Public Relations (jadi PR di bawah
Promotion Department)
a. Merancang PR Strategy
b. Mengumpulkan dan mengelola informasi atau profile perusahaan,
serta menerapkannya seperti:
„Ï Vision
„Ï Mission
„Ï Short and long term business development and plans
c. Membuat company profiles dalam berbagai format
d. Melakukan Publication
i. Regular: - Membuat dan mengelola company website
- Mengelola newsletter, in-house magazine
ii. Irregular: - Menulis articles atau press release.
- Mendorong pihak lain atau penulis lain untuk menulis artikel atau
membuat exposure tertentu yang bisa ikut mendorong business
development
e. Company analyses atau SWOT analyses
f. Menjadi juru bicara untuk media and pihak lain (media
relations and spokesperson)
4. Marketing „³ Membuat strategy untuk mendapatkan revenue secara
maksimal meskipun perolehan rating-nya rendah
i. Merancang Comprehensive Brochure yang berisi mengenai company
profile dan programming strategy hingga beberapa tahun ke depan. Juga
ada gambaran mengenai audience profile dan perolehan rating dan
projection-nya.
ii. Merancang paket iklan berdasarkan
a. Social Economic Status
b. Age
c. Sex
d. Education
e. Gabungan dari beberapa atau semua audience profile category
di atas
iii. Merancang paket iklan berdasarkan waktu tayang; Early Morning
(7:00-10:00 A.M.), Daytime (10:00 A.M.-6:00 P.M.), Early Fringe (6:00-
7:00 P.M.), Prime Access (7:00-8:00 P.M.), Prime Time (8:00-11:00),
Late Fringe (11:00-11:30 P.M.), Late Night (11:30 P.M.-12:30 A.M.),
Overnight (12:30-7:00 A.M.)
iv. Merancang paket iklan berdasarkan program type
v. Merancang marketing strategy untuk mendapatkan pemasang iklan
pada program-program yang memiliki rating rendah.
vi. Menentukan pemasang iklan potensial dan mempersuasi untuk
beriklan
vii. Membangun relationship dengan pemasang iklan; agency dan
advertiser
5. Management & Technical support
Semua pekerjaan di atas tidak ada artinya jika tanpa management atau
administrative support, seperti Traffic Section untuk mengelola
penayangan iklan. Semua pekerjaan tersebut harus ada sistem untuk
mengevaluasi dan mempertahankannya.
Sebuah stasiun TV dengan programming yang baik saja belum cukup tanpa
didukung oleh technical support yang baik pula. Tidak mungkin sebuah
program yang baik akan ditonton jika terus menerus ada gangguan dalam
siarannya, baik itu gambar atau suaranya. Begitu juga ketepatan waktu
dalam setiap tayangan, pergantian dari satu program ke program lain.
Jeda lebih dari 2 detik akan terasa amat lama di mata penonton yang
bisa berakibat pindahnya penonton ke channel lainnya.
Jejak Ted Turner; TV Lokal Menjadi Raksasa CNN
Pada tahun 1975, teknologi satelit komunikasi Amerika sampai pada
tahap di mana orang dapat memancarkan siaran TV. Pada tahun itu Time,
Inc. yang telah mendirikan HBO menyiarkan pertandingan tinju antara
Muhammad Ali-Joe Frazier yang didistribusikan melalui satelit ke
berbagai stasiun TV dan sukses.
Terinspirasi dari kesuksesan siaran pertandingan tinju itu, Ted
Turner, pendiri CNN, yang saat itu masih menjalankan Turner
Communication yaitu bisnis billboard dan stasiun-stasiun radio,
melihat peluang untuk beriklan di TV secara nasional hanya dari
sebuah stasiun TV lokal kecil bernama WTBS di Atlanta (My Beef With
Big Media, How government protects big media--and shuts out upstarts
like me. By Ted Turner.
http://www.washingtonmonthly.com/features/2004/0407.turner.html ).
Ted menyewa sebuah saluran satelit yang sama dengan HBO untuk
menerima dan memancarkan siaran TV WTBS, lalu Ted menginformasikan
kepada seluruh perusahaan Pay TV di Amerika, seluruh bahwa program
dari siaran WTBS boleh dipancar-ulangkan secara gratis. Ratusan Pay
TV yang ada saat itu kemudian mendapat tambahan program baru,
sehingga WTBS kini memiliki jutaan pemirsa yang tentu saja juga
menarik perhatian para pemasang iklan TV. The charge to the cable
companies did not cover the WTBS's own costs, but the station was now
able to set higher advertising rates because its audience was spread
over the entire country (Cable Networks, The Encyclopedia of
Television, http://www.museum.tv/archives/etv/Encyclopediatv.htm )
Sudah lebih dari 10 tahun pertelevisian Indonesia. Kritik terhadap
tayangan televisi kita semakin kuat saja, bahkan Komisi Penyiaran
Indonesia (http://www.kpi.go.id) yang sudah dibentuk ¡¨rajin¡¨
melayangkan protes dan kritik tentang acara-acara yang bisa memiliki
akibat buruk. Seminar dan diskusi pun sudah digelar untuk
mempertanyakan arah pertelevisian kita. Namun kelihatannya
pertelevisian kita bakal terus berjalan dengan tayangan-tayangan
yang disukai penonton¡¨ sebagaimana yang ditunjukkan oleh survey AC
Nielsen dalam bentuk rating tinggi¡¨. Industri televisi sampai kini
hanya tunduk pada rating¡¨. Hanya rating turun¡¨ yang dapat membuat
sebuah stasiun TV merubah tayangannya. Meski pun demikian sebuah
stasiun TV bisa saja membentuk prilaku menonton pemirsanya melalui
beberapa strategi.
Tayangan setan-setanan¡¨ adalah contoh tayangan yang dapat memberikan
rating yang cukup untuk membuat sebuah stasiun bisa jualan¡¨ dan
bertahan hidup. Beberapa waktu yang lalu Indul Daratista pernah
dieksploitasi oleh hampir semua stasiun TV untuk memperoleh untung.
Meski tayangan seperti itu tidak cerdas dan tidak mendidik,
kebanyakan stasiun TVternyata memang harus bertahan hidup dengan cara
seperti. Entah, sampai kapan situasi ini berubah atau diubah.
Barangkali kehadiran TV-TV Lokal baru akan memberi peluang baru untuk
adanya perubahan itu melalui persaingan antar stasiun TV yang semakin
ketat.
DBS sangat terbuka untuk umum jadi siapa saja yang ingin bergabung kami persilahkan selama masih dalam satu visi dengan kami.
karena kami masih sangat membutuhkan support. kepada yang ingin bergabung bisa menghubungi dntv@smkdarunnajah.sch.id.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar